kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 23 Maret 2008 tarukan valas
 

APRESIASI


Burdah Pegayaman, Musik Nyamo Selam ''yang Bali''

Dari Ziarah Maulid ke Pedalaman Bali Utara...

SEKELOMPOK laki-laki berpakaian adat Bali duduk bersila membentuk posisi setengah lingkaran sedang asyik memainkan musik rebana sambil mengumandangkan syair-syair madah (pujian) pada Nabi Muhammad. Alunan rebana terdengar bertalu-talu berselang-seling dengan lantunan syair dari para penabuh, bersahut-sahutan, timpal-menimpal, dengan irama bervariasi, membuat sajian kesenian tradisional-riligius tersebut terkesan sakral, indah, syahdu menyentuh kalbu.

Itulah kesenian burdah Pegayaman, Buleleng, yang bisa disaksikan setiap saat, terutama pada bulan Maulid seperti sekarang ini. Bulan Maulid (bukan kelahiran Nabi Muhammad) oleh masyarakat muslim di pedalaman Bali Utara tersebut dipandang sebagai bulan istimewa. Maulid Nabi hampir tak pernah terlewatkan diperingati oleh masyarakat Pegayaman baik lewat ritual syariat maupun pergelaran kesenian kerohanian seperti burdah yang menarik dan sakral tersebut.

Burdah adalah kesenian tradisional Islam yang memadukan unsur seni tabuh rebana (musik terbang yang terbuat dari kayu bundar dan kulit lembu) dengan syair-syair pujian pada Nabi Muhammad. Syair tersebut ditulis oleh Syarafuddin Abu Abdullah Muhammad bin Said Al-Busiri (Imam Busiri: 1213-1297 M), seorang penyair besar dan ulama sufi kelahiran Mesir yang menetap di Barbar, Afrika Utara. Sebuah syair madah yang dinilai paling indah dan tersohor, dikumandangkan kalangan Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Bahkan di Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, juga ada kesenian burdah, antara lain di Pegayaman (Buleleng), di Loloan (Jembrana), dan di Kepaon (Denpasar). Burdah dikumandangkan masyarakat Muslim dalam berbagai kesempatan, misalnya saat menyambut kelahiran bayi, acara khitanan, atau hajatan lainnya; yang paling sering dikumandangkan pada peringatan Maulid Nabi.

Arti kata burdah sendiri adalah mantel atau kain tebal (wol/ pakaian hangat). Konon Nabi Muhammad pernah memberikan hadiah mantel (burdah) kepada Ka'ab bin Zuhair (penyair terkenal dari Mekah yang memusuhi dan sering melecehkan Nabi Muhammad lewat syair-syairnya yang bernada mengejek). Setelah masa penaklukan Mekah oleh Nabi Muhammad, penyair tersebut bukanlah dihukum melainkan diampuni, bahkan dia diberi hadiah mantel.

Syair madah tersebut aslinya berjudul ''Al-Kawakib ad-Durriyah'' (Bintang-bintang Gemerlapan). Konon saat Imam Busiri sedang menderita lumpuh (stroke), ia bermimpi bertemu Nabi Muhammad (Rasulullah) dan diberi mantel seperti yang diberikan Rasulullah kepada 'Ka'ab bin Zuhair. Imam Busiri sangat terkejut atas mimpi tersebut, hingga terperanjat dan meloncat dari tempat tidur. Seketika itu penyakit lumpuh Imam Busiri sembuh. Ia sangat terharu atas peristiwa itu, dan secara spontan meluncurlah kalimat-kalimat indah berupa pujian terhadap Nabi, sehingga jadilah syair madah tersebut. Sebuah syair panjang dan indah, terdiri dari 160 bait, yang dalam perkembangannya selanjutnya banyak mengilhami syair-syair madah lainnya seperti ''Kasyfu Ghummah'' karya Al-Barudi, ''Nahjul Burdah'' karya Ahmad Syauqi, hingga ''al-Maulid an-Nabawi'' (yang lebih terkenal dengan sebutan ''A-Barzanji'') karya Ja'far Al-Barzanji, yang juga sangat populer dan sering dikumandangkan umat Islam.

Karena syair madah ''Al-Kawakib ad-Durriyah'' karya Imam Busiri tersebut terilhami kisah burdah, maka dalam perkembangan selanjutnya lebih terkenal dengan nama burdah. Tidak hanya syair yang dilantunkan dan bentuk pertunjukannya saja yang disebut burdah, bahkan alat musiknya (rebana/ terbang) pun dikenal dengan nama burdah. Lantaran keindahan, kedalaman makna, serta nilai-nilai universalitasnya, syair tersebut bisa dimainkan dalam berbagai gaya dan versi sesuai budaya-tradisi yang berkembang di daerah burdah dimainkan. Sehingga masing-masing komunitas muslim yang memiliki seni burdah punya ciri dan gaya burdah yang berbeda. Burdah Pegayaman, contohnya, berbeda dengan burdah Loloan maupun burdah Kepaon, meski sama-sama berada di wilayah Bali. Burdah Pegayaman nampak ''lebih Bali'', bahkan ''sangat Bali'', karena kesenian Islam tersebut diadaptasi dengan budaya Bali. Para penabuh/pelantun burdah Pegayaman berpakaian adat Bali, juga dengan lantunan syair berlogat Bali, serta irama lagu bernuansa Bali. Burdah Pegayaman juga dilengkapi dengan tarian pencak silat kuno (bentuk lain dari tarian sakral tharikal sufi) yang ''bergaya Bali'', sebuah kesenian tradisional riligius-sufistik yang unik, menarik, sakral dan magis.

Burdah Pegayaman dan keberadaan kaum Muslim Pegayaman memang menjadi fenomena menarik. Desa tua di pedalaman Bali Utara itu penduduknya beragama Islam, menjalankan syariat sebagaimana umat Islam pada umumnya. Hanya muslim Pegayaman punya warna dan pola hidup yang ''sangat Bali''. Kegiatan ritual keagamaan seperti pengajian dan khurbah Jumat, misalnya, disampaikan dengan bahasa Bali halus. Nama-nama penduduk Pegayaman juga menggunakan perpaduan antara nama-nama yang bernuansa Islam dan Bali seperti Wayan Syahdan, Wayan Syamsul Bahri, Ketut Syahruwardi Abbas, Ketut Siti Aisyah, dan sebagainya. Di sana juga dijumpai sistem kehidupan banjar, subak, sekaa manyi, sekaa hadrah, sekaa burdah, juga acara-acara tradisional religius yang dikemas mirip budaya-tradisi Bali: semisalnya manis Lebaran, penampahan, dan simbol-simbol budaya Bali lainnya. Peringatan hari-hari besar Islam seperti Isra' Mi'raj, Nuzulul Qur'an, terutama Maulid Nabi yang dirayakan secara meriah dan sarat dengan nuansa Balinya.

Di Pegayaman kita dapati kebudayaan Islam dalam bentuk yang lain, Islam yang Bali atau Bali yang Islam (Islam yang membumi). Nampaknya kaum muslim di Pegayaman menyadari pentingnya membangun kehidupan yang harmonis antara komunitasnya dengan komunitas lain, antara kebudayaannya dengan kebudayaan lain, antara manusia dan alam sekitar: ''di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung'', desa kala patra, untuk menjalankan amanat kehidupan, mewujudkan keselarasan, keselamatan, dan memakmurkan kehidupan, karena alam dan kehidupan adalah rahmat Tuhan yang harus dijaga dengan penuh amanat. Artinya, kaum muslim di Pegayaman telah merealisasikan ajaran dan meneladani Nabi Muhammad sebagai Rahmatan Lil-Alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Kesenian burdah merupakan salah satu contoh dari kebudayaan riligius yang tumbuh dan hidup di Pegayaman, sebuah kekayaan budaya yang patut dilestarikan dan dijadikan renungan-pelajaran bagi semua, terutama buat kaum muslim yang pada bulan Maulid ini sedang memperingati kelahiran Nabi Muhammad yang dalam hidupnya banyak memberi teladan baik, termasuk dalam menjaga kehidupan yang harmonis bersama umat lain.

 

Nuryana Asmaudi SA
InTenS-Beh, Denpasar Utara

 

 
 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com