kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 23 Maret 2008 tarukan valas
 

OPINI


''The Speaking Animals''

HIDUP adalah sebuah pilihan! Manusia menentukan, Tuhan cuma membantu agar pilihan yang ditentukan berhasil! Aformisme tersebut adalah buah Zaman Pencerahan, yang merupakan antitesis kaum modernis guna menepis dogma tradisionalis yang mengatakan, "Hidup adalah Takdir! Manusia boleh berusaha, tapi Tuhan yang menentukan!"

"Kalau bukan takdir, tapi sebuah pilihan, hidup bisa dianggap pertaruhan alias judi. Tapi, tidak namanya manusia tanpa kemampuan memanipulasi. Karena, manusia yang diberkati alat ucap paling sempurna di kalangan hewan, ditambah kapasitas otak 1.590 cm3 sejak 40.000 tahun silam, dengan lidah yang licin tanpa tulang membuat manusia jadi paling pintar berdalih. Sebagai The Speaking Animals, apa pun yang dilakukannya dibungkus alasan, sehingga yang salah terkesan benar, yang curang seakan jujur, bahkan pengkhianat yang pintar berorasi seolah pahlawan," papar Rubag.

"Setuju! Terlebih-lebih sekarang kita memasuki Era Post-Industrial yang lazim disebut Zaman Informasi. Sejak awal peradaban hingga berkembangnya industri berat, yang oleh Alvin Toffler dibagi menjadi Era Gelombang I, II dan III, seorang pengusaha harus menyediakan modal uang, mesin dan tenaga kerja berlimpah agar usahanya sukses. Kini, cuma dengan kelincahan lidah, otak encer dan alat ucap yang selalu segar, The Speaking Animals bisa menjadi milyarder. Sebut beberapa nama seperti Tukul Arwana, Ruben Onsu, Eko Patrio dan beberapa presenter lain yang laris manis di berbagai acara TV swasta, tidak harus membangun pabrik untuk jadi kaya raya, meski waktu memejamkan mata dan istirahatnya kurang," komentar Pogog.

"Nanti dulu! Kalau boleh kuandaikan, mereka yang kau sebut milyarder itu punya semacam pabrik mini di otak. Namun pabrik-pabrik mini itu bukan buatan mereka sendiri, tapi anugerah dan rahmat Sang Pencipta. Lalu, mengapa sukses mereka tak bisa disebut sebagai takdir Tuhan, atau nasib baik? Sebab tidak sedikit para pendahulu mereka yang berkarir sukses, namun rezekinya pas-pasan, bahkan ada yang seangkatan dan punya talenta yang sama, tapi tidak populer sehingga sepi job. Syukur, tak semua orang yang punya hoki  bagus takabur, sebab ada di antara orang-orang sukses itu tahu diri dan berpendapat bahwa rezeki ditentukan Tuhan, bukan manusia!" sela Tambir.

"Agnostisme mengajarkan bahwa sulit membuktikan takdir, nasib, hoki berasal atau tidak berasal dari Tuhan. Lagi pula, masalah kepercayaan sama halnya dengan rasa adalah soal yang tidak patut digunjingkan, kecuali punya hobi debat kusir. Sebagai orang yang hidup dikurung tradisi, aku kurang sepaham pendapat bahwa hidup adalah sebuah pilihan, lalu memposisikan Tuhan cuma sebagai pembantu atas pilihan itu. Sukses besar sering membuat orang-orang tertentu jadi arogan, lalu menganggap peruntungan yang mereka raih berkat usaha sendiri, sedangkan Tuhan cuma bertugas menghitung uang yang diperoleh, entah dari usaha halal ataukah korupsi. Aku khawatir, bila mereka gagal, Tuhan akan dipersalahkan sebagai pembantu yang kurang terampil, lalu dipecat seperti tauke mem-PHK kacung," kilah Rubag.

"Itulah orang-orang yang mengaku beragama, tapi melecehkan Tuhan! Aku lebih tertarik pada sinyalemenmu tentang 'hidup sebagai pilihan adalah judi'. Frasa itu kutafsir berarti pekerjaan, posisi, jabatan dan pangkat, yang semuanya kini jadi semacam komoditas yang diperjual-belikan. Karena jumlah komoditas seperti itu terbatas, maka cuma pembayar termahallah yang mendapat barang yang diinginkan. Tahun silam, aku sempat gemas membaca pernyataan seorang petinggi di Bali yang menyarankan agar orang miskin yang cuma punya idealisme tapi tidak berduit, tidak usah mencalonkan diri menjadi Cagub-Cawagub. Sebab, menurutnya, tidak seperti zaman dulu anak petani miskin pun asal punya idealisme dan otak encer bisa jadi presiden, tapi sekarang jangan harap!" tutur Madeg.

"Aku tahu pejabat yang kau maksud! Ucapan yang menyakitkan, mirip ocehan seorang menteri, 'kalau tidak mampu beli gas, pakai saja minyak tanah!', guna menjawab protes rakyat atas kenaikan berlipat harga elpiji, sehingga dikecam berbagai pihak sebagai pejabat publik tidak berperasaan. Heran, nama pejabat Bali yang berpendapat bahwa untuk jadi gubernur perlu banyak uang itu kok tidak pernah muncul lagi di koran di tengah maraknya bursa Pilgub Bali, ya? Apakah 'beliau' tidak punya duit sebanyak yang dibutuhkan sehingga batal mencalonkan diri ataukah memilih jadi tim sukses yang mungkin lebih gampang mendapat duit? Sulit diterka, meski otak seseorang bisa di-scan atau di-rontgen, tapi pikirannya tetap tidak terbaca!" imbuh Pogog.

"Politik uang bukan rahasia lagi, meski dalam peraturan perundang-undangan tercantum sebagai tindakan terlarangDalam hukum positif, tanpa bukti dan saksi otentik, seseorang tidak bisa didakwa. Sebaliknya, orang yang dianggap menyebarkan rumor politik uang, bisa dituntut secara hukum. Malah kalau nasib apes menimpa orang-orang  miskin seperti kita, yang tidak mampu bayar pengacara piawai dan yang puluhan tahun menjadi mayoritas bisu, bisa semaput terkena tendangan pasal-pasal berantai. Anehnya, sebelum masa kampanye Pilgub dimulai, kini di berbagai media terjadi polemik seputar isu tajen yang dikaitkan dengan gagasan peraturan daerah buat melegalisasinya," sambung Tambir.

"Benar! Isu tajen yang konon dilontarkan seorang Cagub itu, bagiku, bak sebuah batu yang dilemparkan ke tengah kolam ikan, yang jarang diberi makan peternaknya. Semua ikan kelaparan menyerbu ke tempat batu jatuh, karena menganggapnya makanan, sehingga menimbulkan suasana bising dan air kolam jadi keruh. Padahal itu cuma sebuah batu! Nah, seperti itulah riuh politik menjelang Pilgub Bali, berbagai pakar melontarkan teori dan dalil, bahkan ada agamawan yang mengupas semua isi kitab suci, guna melabrak isu tajen beserta Perdanya. Juga ada Cagub menyikapi isu yang dikritisi banyak pihak itu dengan teknik  meminjam tenaga lawan' seperti cerita silat Kho Ping Ho," ujar Madeg.

"Ya, ada yang pro tajen khususnya para bebotoh, namun lebih banyak yang kontra, sementara yang melontarkan gagasan tajen dan Perdanya menjadi terjepit. Padahal, kalau mau jujur dan mengakui realitas sebagaimana adanya, Pilkada untuk memilih gubernur, walikota maupun bupati, tidak ubahnya 'judi'. Uang yang dipertaruhkan, seperti yang diberitakan koran, sejak jadi bakal calon hingga jadi calon tetap mewakili parpol, konon mencapai milyaran rupiah. Belum lagi milyaran uang lainnya, saat kampanye hingga Hari H, baik untuk membayar tim sukses maupun para pemilih, yang tentunya berkata 'no free lunch' pada calon-calon yang didukungnya. Nah, jika pemenangnya cuma sepasang di antara beberapa pasang yang ikut kontestasi, apakah ini bukan judi dalam tanda kutip?" tanya Rubag.

"Maybe yes maybe no, tergantung yang menjawab! Itulah fungsi sinonim dan homonim dalam linguistik. Ada beberapa kata berbeda yang memiliki kesamaan arti, sebaliknya ada satu kata yang punya beberapa arti berbeda sesuai konteksnya dalam kalimat. 'Mempertaruhkan' nyawa membela tanah air, beda artinya dengan 'mempertaruhkan' uang demi jabatanSebenarnya kunci kesempurnaan manusia justru sebagai The Speaking Animals karena mereka bisa memanipulasi semua perbuatan dengan kata-kata," sahut Pogog.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com