''The Speaking Animals''
HIDUP adalah
sebuah pilihan!
Manusia
menentukan, Tuhan
cuma membantu
agar pilihan yang
ditentukan berhasil!
Aformisme
tersebut adalah
buah Zaman
Pencerahan, yang
merupakan antitesis
kaum modernis
guna menepis
dogma tradisionalis yang
mengatakan, "Hidup
adalah Takdir!
Manusia boleh
berusaha, tapi
Tuhan yang
menentukan!"
"Kalau bukan
takdir, tapi
sebuah pilihan,
hidup bisa
dianggap
pertaruhan alias judi.
Tapi, tidak
namanya manusia
tanpa kemampuan
memanipulasi.
Karena, manusia yang
diberkati alat
ucap paling
sempurna di
kalangan hewan,
ditambah
kapasitas otak 1.590 cm3
sejak 40.000
tahun silam,
dengan lidah
yang licin tanpa
tulang membuat
manusia jadi
paling pintar
berdalih. Sebagai The Speaking
Animals, apa pun yang
dilakukannya
dibungkus alasan,
sehingga yang
salah terkesan
benar, yang
curang seakan
jujur, bahkan
pengkhianat yang
pintar berorasi
seolah pahlawan,"
papar Rubag.
"Setuju!
Terlebih-lebih sekarang
kita memasuki
Era Post-Industrial yang lazim
disebut Zaman
Informasi. Sejak
awal peradaban
hingga
berkembangnya industri
berat, yang oleh
Alvin Toffler dibagi
menjadi Era
Gelombang I, II dan III,
seorang pengusaha
harus menyediakan
modal uang, mesin
dan tenaga
kerja berlimpah
agar usahanya
sukses. Kini,
cuma dengan
kelincahan lidah,
otak encer
dan alat
ucap yang selalu
segar, The Speaking Animals
bisa menjadi
milyarder. Sebut
beberapa nama
seperti Tukul
Arwana, Ruben
Onsu, Eko
Patrio dan
beberapa presenter lain yang laris
manis di
berbagai acara
TV swasta, tidak
harus membangun
pabrik untuk
jadi kaya
raya, meski
waktu memejamkan
mata dan
istirahatnya
kurang," komentar
Pogog.
"Nanti dulu!
Kalau boleh
kuandaikan,
mereka yang kau
sebut milyarder
itu punya
semacam pabrik
mini di otak.
Namun
pabrik-pabrik mini itu
bukan buatan
mereka sendiri,
tapi anugerah
dan rahmat
Sang Pencipta.
Lalu, mengapa
sukses mereka
tak bisa
disebut sebagai
takdir Tuhan,
atau nasib
baik? Sebab
tidak sedikit
para pendahulu
mereka yang
berkarir sukses,
namun rezekinya
pas-pasan, bahkan
ada yang
seangkatan dan
punya talenta
yang sama, tapi
tidak populer
sehingga sepi
job. Syukur, tak
semua orang
yang punya hoki
bagus takabur,
sebab ada
di antara
orang-orang
sukses itu
tahu diri
dan berpendapat
bahwa rezeki
ditentukan Tuhan,
bukan manusia!"
sela Tambir.
"Agnostisme
mengajarkan bahwa
sulit membuktikan
takdir, nasib,
hoki berasal
atau tidak
berasal dari
Tuhan. Lagi
pula, masalah
kepercayaan sama
halnya dengan
rasa adalah
soal yang tidak
patut
digunjingkan, kecuali
punya hobi
debat kusir.
Sebagai orang
yang hidup
dikurung tradisi,
aku kurang
sepaham pendapat
bahwa hidup
adalah sebuah
pilihan, lalu
memposisikan
Tuhan cuma
sebagai pembantu
atas pilihan
itu. Sukses
besar sering
membuat
orang-orang tertentu
jadi arogan,
lalu menganggap
peruntungan yang
mereka raih
berkat usaha
sendiri,
sedangkan Tuhan
cuma bertugas
menghitung uang
yang diperoleh,
entah dari
usaha halal
ataukah korupsi.
Aku khawatir,
bila mereka
gagal, Tuhan
akan
dipersalahkan sebagai
pembantu yang
kurang terampil,
lalu dipecat
seperti tauke
mem-PHK kacung,"
kilah Rubag.
"Itulah
orang-orang yang mengaku
beragama, tapi
melecehkan Tuhan!
Aku lebih
tertarik pada
sinyalemenmu
tentang 'hidup
sebagai pilihan
adalah judi'.
Frasa itu
kutafsir berarti
pekerjaan, posisi,
jabatan dan
pangkat, yang
semuanya kini
jadi semacam
komoditas yang
diperjual-belikan. Karena
jumlah komoditas
seperti itu
terbatas, maka
cuma pembayar
termahallah yang
mendapat barang yang
diinginkan. Tahun
silam, aku
sempat gemas
membaca
pernyataan seorang
petinggi di
Bali yang menyarankan agar
orang miskin
yang cuma punya
idealisme tapi
tidak berduit,
tidak usah
mencalonkan diri
menjadi
Cagub-Cawagub. Sebab,
menurutnya, tidak
seperti zaman
dulu anak
petani miskin
pun asal punya
idealisme dan
otak encer
bisa jadi
presiden, tapi
sekarang jangan
harap!" tutur
Madeg.
"Aku tahu
pejabat yang kau
maksud! Ucapan
yang menyakitkan,
mirip ocehan
seorang menteri,
'kalau tidak
mampu beli
gas, pakai saja
minyak tanah!',
guna menjawab
protes rakyat
atas kenaikan
berlipat harga
elpiji, sehingga
dikecam berbagai
pihak sebagai
pejabat publik
tidak berperasaan.
Heran, nama
pejabat Bali yang
berpendapat bahwa
untuk jadi
gubernur perlu
banyak uang
itu kok
tidak pernah
muncul lagi
di koran
di tengah
maraknya bursa
Pilgub Bali, ya?
Apakah 'beliau'
tidak punya
duit sebanyak
yang dibutuhkan
sehingga batal
mencalonkan diri
ataukah memilih
jadi tim
sukses yang
mungkin lebih
gampang mendapat
duit? Sulit
diterka, meski
otak seseorang
bisa di-scan
atau di-rontgen,
tapi pikirannya
tetap tidak
terbaca!" imbuh
Pogog.
"Politik uang
bukan rahasia
lagi, meski
dalam peraturan
perundang-undangan
tercantum sebagai
tindakan
terlarang. Dalam
hukum positif,
tanpa bukti
dan saksi
otentik,
seseorang tidak
bisa didakwa.
Sebaliknya, orang
yang dianggap
menyebarkan rumor politik
uang, bisa
dituntut secara
hukum. Malah
kalau nasib
apes menimpa
orang-orang miskin
seperti kita,
yang tidak mampu
bayar pengacara
piawai dan
yang puluhan
tahun menjadi
mayoritas bisu,
bisa semaput
terkena tendangan
pasal-pasal
berantai. Anehnya,
sebelum masa
kampanye Pilgub
dimulai, kini
di berbagai
media terjadi
polemik seputar
isu tajen
yang dikaitkan
dengan gagasan
peraturan daerah
buat
melegalisasinya," sambung
Tambir.
"Benar! Isu
tajen yang konon
dilontarkan
seorang Cagub
itu, bagiku,
bak sebuah
batu yang
dilemparkan ke
tengah kolam
ikan, yang jarang
diberi makan
peternaknya.
Semua ikan
kelaparan menyerbu
ke tempat
batu jatuh,
karena
menganggapnya makanan,
sehingga
menimbulkan suasana
bising dan
air kolam jadi
keruh. Padahal
itu cuma
sebuah batu!
Nah, seperti
itulah riuh
politik menjelang
Pilgub Bali,
berbagai pakar
melontarkan teori
dan dalil,
bahkan ada
agamawan yang
mengupas semua
isi kitab
suci, guna
melabrak isu
tajen beserta
Perdanya. Juga
ada Cagub
menyikapi isu
yang dikritisi
banyak pihak
itu dengan
teknik
meminjam tenaga
lawan' seperti
cerita silat
Kho Ping Ho,"
ujar Madeg.
"Ya, ada
yang pro tajen
khususnya para
bebotoh, namun
lebih banyak
yang kontra,
sementara yang melontarkan
gagasan tajen
dan Perdanya
menjadi terjepit.
Padahal, kalau
mau jujur
dan mengakui
realitas
sebagaimana adanya,
Pilkada untuk
memilih gubernur,
walikota maupun
bupati, tidak
ubahnya 'judi'.
Uang yang
dipertaruhkan, seperti yang
diberitakan koran,
sejak jadi
bakal calon
hingga jadi
calon tetap
mewakili parpol,
konon mencapai
milyaran rupiah.
Belum lagi
milyaran uang
lainnya, saat
kampanye hingga
Hari H, baik
untuk membayar
tim sukses
maupun para
pemilih, yang
tentunya berkata 'no free
lunch' pada
calon-calon yang didukungnya.
Nah, jika
pemenangnya cuma
sepasang di
antara beberapa
pasang yang ikut
kontestasi,
apakah ini
bukan judi
dalam tanda
kutip?" tanya
Rubag.
"Maybe yes maybe no, tergantung yang
menjawab! Itulah
fungsi sinonim
dan homonim
dalam linguistik.
Ada beberapa
kata berbeda
yang memiliki
kesamaan arti,
sebaliknya ada
satu kata
yang punya
beberapa arti
berbeda sesuai
konteksnya dalam
kalimat. 'Mempertaruhkan'
nyawa membela
tanah air, beda
artinya dengan
'mempertaruhkan'
uang demi
jabatan. Sebenarnya
kunci
kesempurnaan manusia
justru sebagai
The Speaking Animals karena
mereka bisa
memanipulasi
semua perbuatan
dengan kata-kata,"
sahut Pogog.
* aridus