kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 6 Oktober 2002 tarukan valas
 

BERITA

 

Bisnis Hiburan dan Relaksasi di Bali

Spa Eksklusif, Panti Pijat Sediakan Layanan Plus

Meningkatnya pendapatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat Bali, membuat kebutuhannya pun makin meningkat. Tidak terkecuali kebutuhan akan hiburan dan relaksasi. Terkait dengan itu, di Denpasar dan Badung -- sebagai jantungnya Bali, tempat-tempat hiburan plus relaksasi ternyata seambrek. Ada yang berbentuk spa dan panti pijat. Ada juga yang "berlogo" salon kecantikan, namun "menu"-nya spa dan massage. Nah, seperti apa bisnis relaksasi ini? Akankah pangsanya hanya menyasar wisatawan saja? Benarkah ada yang bergeser menjadi bisnis esek-esek?

ANDA lelah dan capek? Solusinya gampang. Relaksasi. Anda tinggal pilih apakah relaksasi di panti pijat atau spa. Atau mungkin ke salon, karena di tempat ini sudah banyak juga yang memberikan pelayanan relaksasi, seperti massage, sauna, stem, mandi susu, atau mandi rempah.

Tentu sebelum memilih tempat relaksasi yang diinginkan, Anda harus mengetahui terlebih dahulu "menu" yang ditawarkan. Sebab, banyak juga yang hanya "logo"-nya spa, namun praktiknya layaknya panti pijat. Begitu juga salon. Di Denpasar dan Badung, mencari spa, panti pijat dan salon tidaklah sulit. Tinggal berputar-putar keliling kota dan Badung -- khususnya Badung Selatan, akan banyak ditemukan plang spa, panti pijat atau pun salon. Terlebih lagi bila memasuki jalan-jalan di wilayah Denpasar, Kuta, Sanur dan Nusa Dua, bisnis relaksasi ini tumbuh bagai jamur di musim hujan. Seperti yang terlihat di jalan By-pass Ngurah Rai Tuban. Di kiri dan kanan jalan itu, spa dan panti pijat seolah berderet.

Relaksasi, tak hanya bagi wanita. Justru pria yang banyak melakukannya. Namun yang mengerjakan, sebagian besar wanita. Kalau toh ada laki-laki, biasanya waria. Sementara "pasien"-nya sebagian besar laki-laki. Hanya satu-dua orang saja wanita. Kalau toh ada pasien wanita, itu sebagian besar wisatawan asing.

Di sinilah bisnis ini sering mendulang cibiran. Banyak spa, panti pijat termasuk salon, disinyalemen sebagai tempat esek-esek, bahkan ada di antaranya yang dituding sebagai lokalisasi terselubung. Tudingan ini, bukan tanpa alasan. Maklumlah, praktiknya dekat sekali dengan "wilayah-wilayah" mesum. Bisa dibayangkan, "pasien" dan "perawat"-nya berlawanan jenis, hanya tinggal berdua di salah satu bilik atau kamar. Apa yang mereka lakukan -- selepas pijat-memijat -- tak ada yang tahu, kecuali mereka berdua.

Layanan tradisional massage yang ditawarkan panti pijat misalnya, setelah memilih gambar yang disajikan dalam album maupun yang dipajang di atas meja, "pasien" diajak masuk ke bilik, bahkan ada yang langsung di dalam kamar, sesaat pemijatnya datang. Di bilik itu, mereka hanya berdua, berlawanan jenis. "Pasien" membuka pakaian. Ada yang plong telanjang bulat, ada juga yang hanya menyisakan celana dalam. Setelah itu, aksi pijat-memijat pun dilakukan. Seluruh badan si "pasien" nyaris tidak tersisakan. Tekniknya beragam. Ada yang menggunakan tehnik shiatzu, lombi-lombi atau swedish.

Tak hanya di panti pijat, layanan tradisional massage yang ditawarkan spa dan salon, juga mirip seperti itu. Hanya jika di spa, tempatnya lebih bersih, dan ada layanan tambahan seperti berendam di air hangat, sauna ataupun ditambah dengan stem. Juga ada aromatiknya -- wewangian dan minyak penyegar. Privasi di spa juga lebih terjamin karena sebagian besar eksklusif.

Terselubung?

Dari hasil "kunjungan" Bali Post ke spa, kesan "bersih" sangat terasa. Privasinya juga terjamin karena tempatnya sangat tertutup. Begitu juga "perawat"-nya terlihat tertib. Di spa, "pasien" tidak bisa memilih "perawat". Begitu memilih paket yang disajikan, operasionalnya yang menentukan siapa "perawat" yang akan menanganinya. Seperti di NS di bilangan Sanur, "perawat" setempat tampak tertib. Pijatannya tampak memiliki standar baku sehingga tak sampai memasuki 'wilayah' mesum. Benar-benar relaksasi. Tapi harganya lumayan mahal, 40 dolar AS untuk paket "Balinese Traditional Massage".

Lain di spa, lain pula di panti pijat. Sejumlah panti pijat yang sempat dimasuki, seperti panti pijat yang ada di jalan Diponegoro, Tukad Pakerisan, Sidakarya, Jalan Nusa Kambangan, By-pass Ngurah Rai Sanur, termasuk panti pijat yang ada di dekat simpang siur, nyaris semuanya memberikan layanan plus. Artinya selain pijat-memijat, mereka juga berkenan masuk ke "wilayah" mesum. Misalnya, (maaf) meremas-remas "burung" milik si "pasien", dan aktivitas mesum sejenis hingga pasiennya terpuaskan. Namun sebelum memulai aksinya, ada proses tawar-menawar antara "perawat" dengan "pasien"-nya. "Mau kasi berapa mas?" kata si "perawat" ketika si "pasien" meminta layanan plus. Setelah ada kesepakatan, barulah mereka bermesum ria. Jika tidak, mereka juga tidak mau melakukannya.

Tidak canggung-canggung, ada juga di antara mereka yang siap melayani si "pasien" untuk "main" di tempat itu. Seperti sejumlah panti pijat yang ada di Sidakarya, Jalan Diponegoro dan Tukad Pakerisan. Panti pijat tersebut tidak ubahnya sebagai tempat prostitusi terselubung, karena sang "perawat" berkenan memberikan layanan plus langsung di tempat itu. Tarif layanan plus itu berkisar Rp 100 ribu. Sementara tarif pijatnya Rp 30 ribu per jam. "Di sini tarifnya rata-rata Rp 100 ribu kalau mau begituan," kata salah seorang pemijat di Tukad Pakerisan. Sedangkan di Sidakarya, dipatok sesuai harga kamar -- ber-AC Rp 40 ribu dan non-AC Rp 30 ribu. Pemijatnya cukup diberikan uang tip.

Dari pantauan Bali Post, pengunjung panti pijat dan salon sebagian besar orang lokal. Wisatawan hanya satu, dua saja yang terlihat mengunjunginya. Sementara spa, pangsanya sebagian besar wisatawan dan kalangan lokal yang berduit. Karena itulah, spa tampaknya sangat eksklusif dan tertutup. Barangkali, hal ini terkait harganya yang mahal. Harga paket perawatan di spa sebagian besar dolar. "Balinese Traditional Massage" atau aroma therapy massage misalnya, di spa harganya mencapai 40 dolar AS. Padahal terapi yang sama di panti pijat atau salon, harganya hanya Rp 30 ribu hingga Rp 45 ribu per jam. (yad)


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com